Mengulik Fakta Seputar Sampah di TPS Jl. Budi Karya, Pontianak oleh Mahasiswa HI Untan

Selasa, 4 Desember 2018. Saya melaksanakan projek dari mata kuliah Enviromentalisme Studies. Pada project ini, saya melakukan liputan di tempat pembuangan sampah di Jalan Budi Karya. Mengapa saya tertarik untuk meliput tempat pembuangan sampah disini? Karena menurut saya tempat pembuangan sampah di Jalan Budi Karya ini merupakan tempat pembuangan sampah yang dekat dengan pusat kota. Aroma dari tempat pembuangan sampah di Jalan Budi Karya ini sangat mengganggu pengguna jalan di Budi Karya itu sendiri. Inilah yang menyebabkan saya tertarik untuk melakukan liputan di tempat pembuangan sampah di Jalan Budi Karya ini.

Selain itu, saya juga ingin mengetahui berapa banyak sampah yang dibuang di Jalan Budi Karya ini perharinya. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, disini saya melakukan wawancara dengan Bang Heru selaku Pengawas di Tempat pembuangan sampah di Jalan Budi Karya. Menurut apa yang sudah disampaikan oleh Bang Heru, total banyaknya sampah yang dibuang di Jalan Budi Karya ini hampir mencapai 1 ton/hari. Setelah itu, sampah yang telah dibuang disini akan dilanjutkan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir di Jalan Kebangkitan Nasional.

Screenshot_2018-12-12-08-58-04-26.png

Penulis : Fifin Nisfi Isnaini

Liputan Mahasiswa HI Untan Kepada Petugas Harian Lepas

IMG-20181204-WA0015[1]

Dalam hal ini saudara Syamsul Arif bekerja sebagai PLH dan juga sebagai seorang ayah dalam rumah tangga serta sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka (UT) bekerja sudah hampir delapan tahun, beilau menuturkan bahwa pahit manis pengalaman dalam profesinya sebagai PLH selama tujuh tahun sudah dirasakan dari sejak awal gajinya sebesar Rp tujuh ratus ribu rupiah (700.000,-) sampailah sekarang naik menjadi Rp satu juta rupiah (Rp 1.000.000,-) per bulan serta keluh kesah mengenai pengaturan jam kerja yang diatur oleh pihak pemerintah yang dia anggap kurang efektif (dari jam 05:00-08 wib), pak Syamsul Arif juga berharap pembagian jam kerja seperti ini harus di rubah kembali menjadi dari pukul 05:00-07:00 wib, alasannya adalah kalau sudah diatas jam 07:00 volume kendaraan yang lalu lalang di jalan ini sudah semakin meningkat dan mengganggu pekerjaan serta mengancam keselamatan dirinya dan juga pengendara di jalanan, Disamping itu pak Syamsul Arif juga mengharapkan agar masyarkat lebih disiplin dalam membuang sampah. Meskipun gaji kami adalah dari uang masyarakat.

Dengan sistem kerja dibagi menjadi beberapa lokasi disepanjang jalan Sutoyo yang telah ditentukan dengan jarak sekitar 100 meter, serta beberapa peralatan khusus seperti karung goni berukuran sekitar 15 kilo gram, sapu taman, dan juga skop yang telah difasilitasi oleh pemerintah sendiri. Kemudian proses pembuangan sampah yang telah dikumpulkan tadi ada bagian pekerja lainnya yang akan mengambil sampah-sampah yang telah di masukkan dalam karung tadi untuk dibuang ketempah pembuangan sampah umum (TPU) yang beroperasi sekitar jam 08:00 wib.

Untuk mengetahui lebih lanjut kegiatan liputannya, bisa lihat video dibawah ini.

Keluh Kesah Seorang Petugas Harian Lepas ( PHL )

Sampah merupakan sudah menjadi masalah di berbIMG-20181204-WA0015[1]agai wilayah yang ada di Indonesia dan bahkan di dunia saat ini. Sampah seakan menjadi momok yang tak pernah tak bisa diselesaikan masalahnya. Begitu pula yang terjadi di kota pontianak, meskipun volume sampah di kota pontianak memang tidak sebanyak di kota-kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, Bandung misalnya yang hampir setiap sudut kota terdapat banyak tumpukan sampah.

Namun, di kota Pontianak tepatnya di setiap ruas jalan Letnand Jendral Sutoyo juga menjadi perhatian pemerintah (Dinas Sosial). Sampah yang ada di sepanjang jalan ini terdiri dari daun-daun kering dan plastik yang kemudian dikenal dengan sampah organik dan sampah anorganik. Disepanjang jalan ini memang masih banyak di temui lahan-lahan yang ditanami  pohon-pohon besar. Pohon-pohon inilah yang kemudian sering menggugurkan daunnya tanpa henti terlebih lagi di musim kemarau. Daun-daun dari pohon ini sering berserakan disepanjang jalan  dan terkadang mengganggu pengguna jalan. Di tambah lagi sampah plastik yang sering di buang sembarangan oleh masyarakat yang dengan sengaja membuangnya pada saat berkendara di jalan ini. Sampah-sampah ini sering terbiarkan di jalan tanpa ada yang membersihkan kecuali orang-orang yang bekerja sebagai pekerja harian lepas (PHL) atau sering juga disebut dengan pasukan oren atau pembersih jalanan yang bekerja setiap hari tepatnya di pagi hari, Salah satunya adalah saudara Syamsul Arif yang bertugas di jalan Sutoyo sebagai PHL.

Dalam hal ini saudara Syamsul Arif bekerja sebagai PLH dan juga sebagai seorang ayah dalam rumah tangga serta sebagai mahasiswa di Universitas Terbuka (UT)  bekerja sudah hampir delapan tahun, beilau menuturkan bahwa pahit manis pengalaman dalam profesinya sebagai PLH selama tujuh tahun sudah dirasakan dari sejak awal gajinya sebesar Rp tujuh ratus ribu rupiah (700.000,-) sampailah sekarang naik menjadi Rp satu juta rupiah (Rp 1.000.000,-) per bulan serta keluh kesah mengenai pengaturan jam kerja yang diatur oleh pihak pemerintah yang dia anggap kurang efektif (dari jam 05:00-08 wib), pak Syamsul Arif juga berharap pembagian jam kerja seperti ini harus di rubah kembali menjadi dari pukul 05:00-07:00 wib, alasannya adalah kalau sudah diatas jam 07:00 volume kendaraan yang lalu lalang di jalan ini sudah semakin meningkat dan mengganggu pekerjaan serta mengancam keselamatan dirinya dan juga pengendara di jalanan, Disamping itu pak Syamsul Arif juga mengharapkan agar masyarkat lebih disiplin dalam membuang sampah. Meskipun gaji kami adalah dari uang masyarakat

Dengan sistem kerja dibagi menjadi beberapa lokasi disepanjang jalan Sutoyo yang telah ditentukan dengan jarak sekitar 100 meter, serta beberapa peralatan khusus seperti karung goni berukuran sekitar 15 kilo gram, sapu taman, dan juga skop yang telah difasilitasi oleh pemerintah sendiri. Kemudian proses pembuangan sampah yang telah dikumpulkan tadi ada bagian pekerja lainnya yang akan mengambil sampah-sampah yang telah di masukkan dalam karung tadi untuk dibuang ketempah pembuangan sampah umum (TPU) yang beroperasi sekitar jam 08:00 wib.

Proses Pembuangan Sampah Rumah Tangga ( Kantor Pontianak Institut )

Sampah domestik atau limbah rumah tangga merupakan bahan buangan yang timbul karena adanya kehidupan manusia, masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat timbul di berbagai daerah, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sampah  yang kerap disebut sebagai limbah rumah  tangga dapat berupa limbah padat ataupun limbah cair. Limbah padat dapat berupa sampah organik maupun anorganik dan limbah cair dapat berupa air kotor yang berasal dari bekas atau sisa aktivitas rumah tangga. Limbah yang dibuang secara sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam dampak baik pada lingkungan maupun pada kesehatan itu manusia sendiri. Semua negara di bumi ini menyadari bahwa sampah atau limbah adalah salah satu permasalahan yang sangat sulit untuk ditanggulangi serta membawa ketidaknyamanan hidup dalam sebuah lingkungan.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat juga mengalami peningkatan daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas limbah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbunan sampah memerlukan pengelolaan.

Seperti salah satu rumah sekaligus merupakan kantor swasta yang saya jadikan sebagai salah satu sumber yang saya datangi, tepatnya berada di Jalan Parit Husin Hamzah 2, komplek alex griya permai 1 no F 12. Dalam kesehariannya, orang-orang yang melakukan aktivitas sehari-hari  di kantor Pontianak Institut ini juga tidak lepas dari penggunaan berbagai macam produk yang tentunya dapat menghasilkan berbagai macam limbah padat seperti sampah organik dan anorganik sehingga harus memaksa sebagian penjaga kantor ini untuk pndai-pandai dalam mengolah sampah yang di hasilkan dik kantor ini.

Seperti yang telah diungkapkan oleh seorang yang menjadi narasumber saya yaitu saudara Riduansyah selaku penjaga kantor ini sekaligus seorang mahasiswa yaitu, dalam kesehariannya biasanya kantor ini biasanya dalam satu (1) hari saja bisa menghasilkan sampah sebanyak enam (6) kilo gram, jumlah tersebut belum termasuk jikalau ditambah lagi ada acara dikantor ini, maka jumlah sampah yang dihasilkan juga semakin bertambah tentunya lebih dari tiga (3) kilo gram dengan jenis sampah yang yang masih bercampur antara organik dan anorganik dan yang paling banyak didominasi oleh sampah anorganik sperti plastic indomie, kaleng ikan sarden, kaleng susu, deterjen, shampoo kemudian sampah bekas kertas pembungkus makanan, serta kertas dokumen yang salah dan  sisa-sisa berkas yang tidak dipakai lagi.

Kemudian proses pembuangan sampahnya adalah  ditampung terlebih dahulu selama 2 hari, baru kemudian di setorkan ke tukang pengambil sampah yang masuk-masuk ke complex kantor yang dijaganya. narasumber lebih memilih untuk diberikan kepada tukang pengambil sampah dikarenakan tidak susah untuk pergi ke tempat pembuangan sampah umum, selain itu juga sebagai sedekah untuk memberikan rezeki dengan tukang pengambil sampah tersebut.

Lahirnya Pipetkite Sebagai Penyelamat Lingkungan

PipetkiteBangaimana bisa disebut PipetKite ?Disini akan membahas tentang apa itu PipetKite dan bagaimana PipetKite terbentuk. Sebelum masuk kepada bagaimana PipetKite terbentuk, akan saya sampaikan apa itu PipetKite.

PipetKite adalah suatu projek lingkungan yang memproduksi pipet yang terbuat dari bambu. Adanya permasalahan sampah pipet plastik kerap menjadi hal yang dianggap sepele bagi sebagian masyarakat.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk, pemakaian sampah pipet plastik pun banyak digunakan kemudian dibuang sembarang tempat. Maka dengan hal ini menimbuhkan rasa kepedulian bagi sekelompok Mahasiswa Untan yang merupakan Alumni YSEALI untuk membuat suatu Project untuk menjawab permasalahan penggunaan pipet plastik yakni PipetKite.Project ini hadir untuk meminimalisir pemakaian pipet plastik, kemudian diganti menjadi pipet berbahan bambu yang ramah lingkungan.

Awalnya komunitas PipetKite ini dibentuk sejak adanya inspirasi dari 4 pemuda yang berasal dari camp YSEALI yang mana salah satu dari mereka terdapat satu orang mahasiswi Hubungan Internasional Untan bernama Christine Devi Claudia. Berawal dari kelompok Christine dan kawan-kawannya yang mendapat tugas mengenai lingkungan.

Kemudian mereka terinspirasi dari pipet bambu yang dibuat di Bali, setelah dipikir-pikir dan melihat potensi alternatif lingkungan di sekitar pontianak yang bisa digunakan, akhirnya ketemu di Rasau Jaya ini terdapat banyak bambu yang tidak digunakan.

Daripada bambunya dibuang dan dibakar, lebih baik diolah dan di produksi menjadi pipet bambu. Dan hal ini merupakan salah satu project yang digunakan oleh kelompok Christine dan kawan-kawan dalam menjalankan tugas mengenai cinta lingkungannya.

Setelah di bicarakan dengan ibu-ibu komplek sekitar dan melalukan kerjasama dengan ibu-ibu setempat dalam memproduksi pipet bambu tersebut dan akhirnya komunitas Pipet Kite dapat berlangsung dan berproduksi hingga saat ini.

Aksi Bakti Sosial Mahasiswa HI Untan bersama Anggota UKM Universitas Tanjungpura

Jum’at 30 November 2018. Saya mewakili teman-teman kelompok dari mata kuliah Environmentalisme Studies melakukan project yang memang telah dibagi-bagi tugasnya. Disini saya mengajak teman-teman dari beberapa UKM Universitas Tanjungpura untuk perduli terhadap lingkungan Universitas Tanjungpura. Dalam project ini saya mengajak teman-teman UKM untuk mengumpulkan sampah sekitar dan membuatkan tong sampah disetiap sudut lingkungan UKM. Seperti yang kita ketahui bahwa UKM merupakan tempat atau wadah mahasiswa untuk berkarya melakukan kegiatan.

Namun, kondisi yang dapat kita lihat saat ini lingkungan sekitar UKM Universitas Tanjungpura terlihat kotor dan kumuh. Hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran mahasiswa Untan sendiri untuk menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, bukan hanya mahasiswa atau orang UNTAN saja yang melintasi lingkungan sekitar UKM Universitas Tanjungpura ini. Namun dari  masyarakat luar juga sering melintasi daerah tersebut. Jika masalah sepele seperti lingkungan sekitar UKM Untan yang kotor ini dibiarkan, maka akan banyak tanggapan negatif dari masyarakat luar terhadap Untan sendiri.

Setelah memberikan kesadaran kepada teman-teman UKM Untan. Saya mengajak teman-teman UKM Untan untuk bekerja bakti membersihkan lingkungan UKM Untan. Mulai dari memungut sampah, membersihkan rumput-rumput, membersihkan selokan dan membuat saluran air, serta membuat tanaman hias agar lingkungan tampak lebih bersih dan indah. Setelah itu, beberapa dari berbagi tugas ada yang membuat tong sampah. Tong sampah ini dibuat dari ember bekas cat cair dan kayu.

Dengan adanya project ini, diharapkan pemuda terutama mahasiswa dapat menjaga kebersihan lingkungan dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Lingkungan yang kotor dapat menyebabkan berbagai jenis sumber penyakit. Selain itu lingkungan yang kotor juga tidak enak dipandang mata serta memberikan pandangan buruk bagi masyarakat di sekitarnya. Semoga teman-teman yang mengikuti project pada hari ini dapat terus menerapkan apa yang sudah kami pelajari bersama dilingkungan masyarakat.

 

Penulis : Fifin Nisfi IsnainiIMG-20171210-WA0029

Langkah-langkah Membuat Pipet Bambu

IMG20181121100104Setelah kami melalukan survey lapangan dan memcoba melakukan interaksi dengan ibu-ibu yang memproduksi Pipet Kita untuk berkenan mengajarkan kami bagaimana cara membuat pipet bambu tersebut.

Pembuatannya bisa dilakukan sendiri dengan alat dan bahan yang terjangkau. Pembuatannya dimulai dengan beberapa tahap sebagai berikut :

  1. mengambil bambu yang terdapat di sekitaran Rasau Jaya, cari bambu yang kecil.
  2. Kemudian bambu dipotong menggunakan gergaji dengan ukuran 20cm.
  3. Setelah itu bambu yang telah dipotong di amplas hingga bersih dan halus dan juga adanya perubahan warna menjadi berwarna kecoklatan.
  4. Kemudian bambu dicuci terlebih dahulu terutama bagian dalam dari bambu tersebut.
  5. masukan bambu yang sudah di amplas serta cuka apel secukupnya ke dalam panci untuk di rebus, hal ini dilakukan untuk menghilangkan bakteri di bambu.
  6. Setelah di rebus hingga mendidih, angkat pipet bambu dan tiriskan hingga mengering. Untuk pengeringan pipet bambu ini dilarang untuk dijemur, karena dikhawatirkan tidak baik untuk ketahanan pipet bambu tersebut.
  7. Pipet bambu yang sudah kering sudah dapat digunakan dan dapat dijual belikan.

Pipet bambu ini dikemas dalam packingan tas kain yang berisi 2 buah pipet bambu dan juga sikat pembersih pipet bambu untuk digunakan ketika membersihkan pipet bambu yang sudah digunakan.

Liputan Mahasiswa HI Untan Mengenai Dampak Penumpukan Sampah

Screenshot_2018-12-12-08-58-17-02.png

Untuk lebih jelasnya, silahkan tonton video liputan berikut 😉

https://youtu.be/zDZSJzZQoqwzDZSJzZQoqw

 

Pewawancara : “Assalamualaikum Bang, dengan Abang siapa namanya?”
Narasumber : “Waalaikumsalam, Heru”
Pewawancara : “Bang Heru, Perkenalkan saya Fifin dari Untan. Saya mau tanya ni bang kira-kira ada berapa banyak sampah yang dibuang disini? Jumlah banyaknya gituu bang”
Narasumber : “Dalam satu hari nya bisa mencapai satu ton, biasanya diambil pakai dua kali pengambilan (dua reet) menggunakan dumtruck dibawa ke TPA di Jalan Kebangkitan Nasional”
Pewawancara : “Kalau boleh tau, setelah dibuang disana, sampahnya diapakan lagi sih bang?”
Narasumber : “Setelah sampai disana, ada pembagiannya lagi. Ada yg bagian mengolah, disana kan sampahnya ada yang diolah jadi gas. Gas yang biasa dipakai untuk masak”
Pewawancara : “Abang tau kan kalau sampah plastik itu memerlukan waktu penguraian yang sangat lama?”
Narasumber : “Iya tau”
Pewawancara : “Abang tau gak kalau ada penerapan 4R dalam membantu mengatasi sampah plastik?”
Narasumber : “Iya tau, biasanya dari Bank Sampah”
Pewawancara : “Nahh, berarti Abang udh tau ya mengenai Bank Sampah Rosela di Jalan Purnama?”
Narasumber: “Ohh yang baru itu ya”
Pewawancara :”Kalau boleh tau,apakah mereka menggunakan sampah dari TPA atau darimana ya bang?”
Narasumber :”Ohh kalau itu mereka pakai sampah komplek, setelah itu sampahnya dipilah, yang plastik mereka gunakan lagi, dan yang organik dibuang ke TPS setempat”
Pewawancara :”Oh gitu, oke bang. Lalu sekarang menurut Abang apakah sampah di Jalan Budi Karya ini yang menyebabkan banjir di sekitaran Jalan Budi Karya ini?
Narasumber : “Yaa kalau banjir karena sampah sih iya, selain itu karena tidak ada selokan juga sih”
Pewawancara : “Sudah berapa lama sih Bang lokasi ini dijadikan tempat pembuangan sampah?”
Narasumber :”Udah sekitar 2 tahunan”
Pewawancara :”Oh yaudah, terimakasih banyak ya bang”
Narasumber: “Iya sama-sama”

Penulis : Fifin Nisfi Isnaini

 

Kunjungan Mahasiswa HI Untan ke Komunitas Pipetkite

IMG-20181212-WA0005.jpg

Penulis : Lastri

Pada pertemuan mata kuliah Environmentalism Studies hari ini, kami  berkunjung ke komunitas PIPET KITE di Rasau Jaya, Kuburaya. Kami melakukan beberapa agenda disana, seperti sharing mengenai apa dan seperti apa sih pipet bambu itu, kemudian sharing mengenai bagaimana inspirasi awal pembentukan komunitas pipet kite ini. Selain itu kami juga belajar cara pembuatan pipet bambu itu sendiri. Pada kesempatan kali ini, kami bertemu dengan beberapa narasumber dari komunitas pipet kite yang bernama Ibu Sri Maryati, Ibu Reni, dan Ibu Sartinah. Mereka merupakan sekelompok Ibu-ibu yang terdiri dari 24 orang, namun yang biasa aktif memproduksi pipet bambu hanya sekitar 10 orang saja.

Selengkapnya dapat dilihat pada video berikut: